Pages

Senin, 11 November 2013

Mancing Pasiran

                Ketika kemarin saya berlibur ke pantai untuk merayakan reuni ada pemandangan tak biasa yang saya lihat. Memang setelah melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan, jarang sekali saya ke pantai. Baru setelah semester 6 seorang teman mengajak saya ke sana untuk sekedar bernostalgia. Pemandangan tak biasa itu adalah banyaknya para pemancing yang berdatangan. Bukan mancing ke tengah laut dengan perahu. Tetapi mancing dari pantai. Para pemancing ini menggunakan joran yang sangat panjang. Dengan baju yang rapat menutup sekujur tubuh, mereka berdiri di pasir yang basah. Bahkan ada yang sampai nyemplung melawan ombak setinggi dada. Ini sangat jauh berbeda dengan waktu dulu ketika saya di SMK. Dulu tidak ada satupun orang yang rela berdiri dibawah terik matahari yang panas demi menyalurkan hobinya memancing. Paling-paling ketika berlibur ke pantai yang sering temui adalah ABG yang bermain ombak sambil tertawa-tawa, siswa SMA yang bolos dengan berseragam, para nelayan yang menarik jaring, sampai remaja yang nekat berbuat mesum.

                Awal ketika saya melihat para pemancing ini hanya bingung yang ada di benak saya. Rasa bingung itu sebenarnya muncul ketika saya melihat ombak yang dengan ganasnya menyapu pasir. Meski hanya sebentar, ombak itu tak pernah lenyap. Ombak itu terus datang silih berganti menghempas pinggiran, mengacaukan ketenangan, kemudian meninggalkan buih. Karena itulah saya berkesimpulan bahwa tidak ada ikan yang betah tinggal disana. Apa lagi untuk mencari makan. Tapi para pemancing ini tetap tegar memegang joran mereka yang menjulang tinggi dan saya dengan entengnya menganggap mereka cuma orang yang iseng-iseng mencoba mancing dari pinggiran.

                Sampai seorang pemancing menghentak joran, lanjut menggulung senar. Saya yang penasaran terus mengamati mereka dari kejauhan. Mereka lalu berteriak

                “Hoe dapet, hooee dapeet!!”

                Sontak, saya pun kaget. Saking penasarannya saya pun mendekat. Diangkatlah jorannya. Terlihat ikan yang menyangkut di kail. Dia melepas kailnya tetapi ikannya langsung dibuang. Saya tidak tahu jenis ikan apa yang dia dapat. Tetapi setelah saya bertanya, ternyata itu adalah ikan buntal yang beracun jika dimakan. Anggapan saya jika mereka adalah pemancing yang sekedar iseng-iseng mancing dari pinggir pantai perlahan luntur.

                Melihat hasil yang mereka dapat, saya pun tertarik untuk mencoba. Dari mereka saya banyak bertanya tentang jenis ikan yang menjadi target dan umpan yang cocok.  Mereka memberi tahu saya bahwa teknik yang mereka pakai itu adalah mancing pasiran. Umpan yang sering di pakai adalah udang sungai atau udang tambak. Katanya, selama memancing di sana mereka pernah dapat ikan seberat 2 kg. Cukup besar dibandingkan hasil ketika mancing di sungai atau di waduk wonorejo. Tak heran mereka betah berdiri kepanasan seperti Petugas pom bensin.

                Setelah mendapat cukup informasi saya nekat turun ke pantai untuk mencoba sendiri. Keadaan sungai disekitar saya yang semakin dangkal dan para penduduk yang rajin meracuni sungai setiap dua bulan sekali membuat saya memilih untuk memancing di pantai. Apalagi pemandangan pantai yang membuat mata serasa tertahan untuk tak lekas berkedip. Semilr angin yang tak pernah usai menghembus. Dan jika beruntung saya dapat bertemu kembali dengan sang senja, sebuah surga yang rutin datang sekali dalam sehari.

                Turun ke pantai pertama kali saya tidak dapat apa-apa. Hanya mengandalkan pancingan sungai, pagi-pagi jam delapan saya meluncur dengan seorang teman. Karena di kota saya tidak ada yang jual udang, rencananya saya akan mampir dulu ke Pasar Bandung untuk membeli disana. Sampai di pasar ternyata udangnya baru saja habis. Apes sekali karena datang kesiangan. Tapi karena saking kepinginnya mancing, saya tetap nekat berangkat ke pantai. Siapa tahu disana ada yang jual umpan. Tiba di pantai saya cuma bisa bengong karena disana juga tidak ada satupun yang menjual umpan.

                Turun ke pantai untuk kedua kali saya agak merasa percaya diri karena menenteng joran pancing baru meskipun dengan reel yang kecil. Tidak seperti pertama kali, saya masih bisa membeli umpan di pasar bandung. Sampai di pantai rasa percaya diri saya menjadi biasa saja karena ada pemancing yang membawa joran yang panjangnya 4 meter lebih. Jauh dengan saya yang cuma 3 meteran. Dengan bandul kecil saya melemparkan umpan. Lama sekali saya menunggu tetap tak ada ikan yang mengendus. Barulah kemudian saya tersadar jika umpan saya cuma nyangkut di pasir karena hempasan ombak.

                Turun ke pantai ketiga kali saya cuma dapat gosong. Di sana saya bertemu dengan seorang pemancing. Katanya itu bukan waktu yang tepat untuk memancing karena ombak sedang serong ke kanan. Akhirnya hawa panas jam satu siang dan sepinya pantai membuat saya memutuskan untuk cepat pulang.

                Turun ke pantai ke empat kali barulah saya bisa merasakan sesnsasi strike mancing di laut. Berbekal reel baru saya nekat mencoba lagi. Umpan yang saya pakai bahkan bukan umpan yang layak karena sudah busuk. Ombaknya juga sedang serong ke kiri. Pemancing yang terlihat sepertinya cuma saya dan seorang yang dari kejauhan tampak sedang menantang ombak. Beberapa kali saya merasakan tarikan, tapi lepas setelah di tarik. Akhirnya setelah berdiri selama 1 jam saya bisa mendapatkan seekor ikan senggreng seukuran dua jari. Lumayanlah untuk pemula yang biasa mancing di kali.

                Berikut saya paparkan spesifikasi pancing dan trik untuk mancing pasiran :

Joran / Walesan:
Pioneer Riverside : Joran Graphite dari Pioneer

Joran pasiran biasanya memiliki desain khusus. Karena fungsinya untuk mancing dari pinggiran maka bentuknya pun sama dengan joran karangan (rock fishing). Perbedaan yang paling mencolok dengan joran teknik memancing yang lain adalah panjangnya yang diatas rata-rata. Berkisar antara 3,6 meter - di atas 5 meter yang terdiri dari lima sampai enam bagian untuk model telescopic (mirip antena radio karena bisa diulur). Sedangkan untuk model sambung biasanya terdiri dari tiga sampai empat bagian. Untuk anda yang suka traveling saya sarankan membeli yang model telescopic karena lebih mudah diringkas. Untuk anda penyuka mancing pasiran sekaligus mancing karangan saya sarankan membeli model sambung karena memiliki kekuatan lebih.

Reel set pada joran pasiran dipasang agak menjauh dari ujung pangkal, kira-kira berjarak 45-55 cm. Fungsinya adalah untuk menambah kekuatan dalam pelemparan seperti halnya cara kerja sebuah pengungkit.

Tingkat kelunturan pada ujungnya biasanya sedang (medium action) dengan Casting Weight / Casting lure : minimal 100-200 g atau bisa juga yang lebih tinggi (semakin kaku, semakin baik). Dengan tingkat kelenturan seperti itu seorang pemancing akan lebih mudah melakukan lemparan jauh (long cast) ke tengah laut. Jangan kuatir dengan sensitifitas joran tingkat medium action karena anda masih bisa merasakan tarikan ikan dua jari sekalipun.

Menurut saya joran pasiran yang ideal buat anda yang berduit ialah EXORI black cobra, MAGURO power blade, MAGURO spin power dan Orca hard Surf Casting (Yang ini baru beli. Harganya 365 ribu. Panjang 4,5 meter. Lumaya kaku sih) dengan kisaran harga 400-550 ribu. Yang diatas satu juta juga ada seperti merk SHIMANO dan DAIWA . Sedangkan yang “murmer” (cocok dengan kantong mahasiswa seperti saya he...he....) bisa anda cari MAGURO power cast, Maguro ultra cast, KAIZEN sugureta dan DAIDO dengan kisaran harga 135 ribu sampai 270ribu.

Exori monica
Untuk joran saya sendiri memilih exori monica 360 (360 cm) yang masih terlalu lentur (heavy action) dengan harga berkisar antara 100 ribu-135 ribu. Maklum, ketika beli saya masih pemula jadi belum tahu joran yang ideal buat pasiran. Peletakan reel setnya juga masih berdekatan dengan pangkal dengan jarak kira-kira 21 cm. Beratnya sih lumayan ringan, tetapi butuh tenaga extra untuk melakukan lemparan umpan yang sempurna. Dengan spesifikasi itu sepertinya joran ini di desain bukan untuk mancing pasiran tetapi untuk mancing ikan layur. Karena saya ndak mau beli lagi, maka joran ini saya modifikasi dengan mengganti ujungnya dengan yang lebih kaku. Resikonya ialah panjangnya berkurang 30 cm. Bagi saya tidak masalah, malah lemparan saya makin jauh.

 Reel / kerekan:
Banax Iris 5000, Contoh reel Long Cast Spool

Model spinning reel, tipe long cast spool (lemparan panjang) adalah reel yang  ideal untuk mancing pasiran. Reel ini memiliki desain spool yang panjang sehingga memudahkan senar keluar dari spool.  Akhir-akhir ini para produsen reel berlomba-lomba memproduksi reel yang khusus untuk pasiran dengan ciri-ciri spool yang dangkal (cetek), ukurannya besar dan memanjang. Bahkan untuk menghasilkan gulungan yang sempurna, merk tertentu ditambahkan “worm shaft” (bentuknya seperti ulir) pada bagian penggerak spool (gerakan maju mundur). Tentu saja reel seperti ini di bandrol dengan harga diatas rata-rata.

Untuk ukuran reel yang ideal adalah 5000-6000 (ukuran ini juga belum pasti karena setiap merek mempunyai ukuran yang berbeda-beda). Anda sebenarnya juga bisa menggunakan reel ukuran kecil (misalnya ukuran 3000 ke bawah) yang penting dapat memuat senar minimal 150 meter. Tetapi jika anda memakai reel kecil, anda akan kesulitan menggulung senar yang panjang karena memakan waktu yang lama. Sebaliknya, jika anda menggunakan reel besar (ukuran 7000, 8000 atau diatasnya), proses penggulungan senar menjadi lebih singkat. Tetapi resikonya anda tidak akan betah memegang pancingan karena terasa berat.
Banax Poseidon, reel Surf Casting menengah ke atas dari Banax
Hal lain yang perlu anda perhitungkan dalam membeli reel adalah ikan yang menjadi target. Ikan ukuran besar seperti Jenong (Caru, Kue gerong, Giant Travely) dengan berat diatas 5 kg tidak mungkin anda tarik dengan reel yang murah meriah seperti merk exori, relix, hinomiya, atau merek-merek lain yang harganya dibawah 200 ribu. Untuk ikan sebesar itu anda memerlukan reel  yang agak mahal, seperti bannax SX5000 dengan kisaran harga 500ribu, Ryobi Proskyer Nose Power harganya kisaran 600ribu atau reel lain dengan harga diatasnya (900ribu-diatas 1 juta) seperti OKUMA Distance Carp Pro 60, SHIMANO active cast, dan DAIWA Windcast.
Reel pasiran murah meriah dari Orca. Namun dengan banyak kekurangan

Sebenarnya tidak ada spesifikasi yang pasti untuk memilih reel karena faktor dalam melakukan lemparan terbaik ke tengah laut bukan hanya reel saja. Anda juga harus mempertimbangkan keseimbangan antara besar diameter senar, berat bandul (timbel / timah) dan tentu saja seperti yang telah saya bahas di atas, yaitu panjang joran.

Saya sendiri menggunakan reel Orca EF8000 yang masih dalam kategori reel khusus pasiran dengan Gear ratio (perbandingan keliling gear) yaitu 4,7 : 1. Memang dengan Gear Ratio sebesar itu putarannya menjadi agak lambat (reel biasa perbandingannya 5,1 : 1), tetapi dengan diameter spool yang lebih besar dari pada biasanya saya rasa tidak mengurangi kecepatan putaran reel untuk menggulung senar. Bentuknya sama persis dengan exori fiesta. Yang membedakannya adalah jumlah Bal Bearing yang cuma 4 biji. Jauh dengan exori fiesta yang jumlahnya 9 biji.  Harganya juga murah meriah, hanya 185 ribu (tahun 2013) sudah dapat reel pasiran. Selama penggunaan juga belum ada masalah (karena baru turun 4 kali ke pantai). Hanya beratnya yang membuat tangan saya cepat capek.

Line / Senar :
Exori Hi Speed
Senar tipe monoline (senar bening) saya kira sudah cukup. Bila anda menginginkan yang lebih kuat cari Nylon PE (mirip kenur layangan) tapi anda jangan kaget dengan harganya yang selangit. Kekuatan senar minimal 18 Lbs (kurang lebih 8 kg) dengan ukuran diameter 0,30 mm sampai 0,35. Menggunakan senar ukuran kecil keuntungannya umpan dapat terlempar jauh, muat banyak di spool, dan tahan dengan terjangan ombak. Tetapi anda harus berhati-hati ketika umpan anda disambar ikan di atas 5 kg karena mudah putus. Sebaliknya, jika anda menggunakan senar besar, lemparan menjadi lebih pendek, timbal / pemberat harus dipilih yang besar, dan senar mudah terombang-ambing ombak. Tetapi tidak ada masalah ketika harus bertanding dengan ikan yang besar.


                Anda sebenarnya dapat menggunakan senar diameter di bawah 0,30. Namun biasanya senar dengan diameter kecil berkekuatan besar biasanya mahal. Untung saja beberapa produsen senar masih mengeluarkan senar yang demikian dengan harga miring. Bahkan dengan standar IGFA. Misalkan Blood super soft. Harganya di kisaran 40an ribu.
 
Blood Supersoft 300m
Saya sendiri memakai orca assault ukuran 0,35 mm, panjangnya 2 X 100 meter. Ukuran seperti itu saya kira cukup aman untuk menarik ikan dua kilogram. Dengan diamter 0,35 mm masih bisa untuk diajak menerjang ombak setinggi 1,5 - 2 meter. Rencananya kalau cukup punya uang saya akan menggantinya dengan Exori Hi speed (segulung besar) yang lebih murah meriah.
 

Sinker / timah / bandul :

               
Pemakaian timah disesuaikan dengan ketinggian ombak. Untuk ombak yang rendah bisa dipakai bandul dengan berat 80 gram dan 100 gram ke atas untuk ombak yang tinggi. Lebih baiknya lagi di pilih bandul khusus pasiran berbentuk kerucut dengan kawat yang fungsinya sama dengan jangkar. Ketika di tarik kawat yang menancap akan melepas sendiri sehingga tidak mudah tersangkut dan tidak merusak habitat ikan. Bentuk timah juga berpengaruh. Model timah yang bulat penuh seperti bola sepengalaman saya sangat mudah terombang-ambing ombak. Bentuk kerucut juga sama saja.

Kemarin saya sudah muter-muter di kota saya sendiri, trenggalek untuk mencari bandul berkawat tetapi tidak juga ketemu. Lanjut muter-muter lagi sampai ke tulungagung juga gak ada. Akhirnya dengan segenap daya pikir saya sebagai makhluk yang berfikir, saya mencetak bandul sendiri. Bandul itu saya desain mirip daun atau oval seperti kijing (kerang yang hidup di sungai), pipih dan meruncing  pada 2 ujungnya. Dalam benak saya model bandul yang meruncing seperti ini akan menancap ke dasar berpasir ketika terjun ke laut. Dan ternyata setelah dicoba  benar saja, bandul ini cukup stabil melawan ombak 1,5 meter dibanding bandul model bola dengan berat yang sama. Dengan catatan ombak tersebut bukan ombak yang menyamping tetapi lurus ke depan.

Hook / jerat / kail / kernel / cêkrèk

                Para pemancing pasiran di tempat saya biasanya menggunakan ukuran kail nomor 4. Tapi menurut saya itu terlalu kecil. Yang pas bagi saya adalah nomor 5 untuk segala ikan besar atau ikan kecil. Bahkan untuk target ikan besar ada yang  menggunakan nomor 7-10. Dulu saya pernah nyoba pake kail yang besar tapi malah gak dapet. Sepertinya jika menggunakan kail nomor 7-10 terlalu besar untuk ikan-ikan bermulut kecil seperti senggreng dan luju (lucon, bojor).  Kail besar hendaknya digunakan untuk target ikan bermulut lebar seperti ikan Laosan (surung, kuro).

Umpan dan rangkaian

 Saya biasa menggunakan udang sungai tanpa dikupas sebagai umpan karena harganya lebih terjangkau dan mudah didapat. Para pemancing biasanya menggunakan udang tambak kupas yang ukurannya gede. Di daerah saya sendiri masih jarang yang jual udang tambak. Kalau beruntung, saya bisa mendapatkannya di pasar ketika masih pagi. Kalau siang pasti sudah ludes diborong pemancing lain.

Rangkaian yang sering saya pakai dalam teknik pasiran adalah bandul-swifel-kail-kail-kail-swivel. Saya sengaja meletakkan bandul paling bawah untuk meminimalisir resiko tersangkutnya kail. Untuk pemasangan umpan udang, kepalanya harus dibuang. Sepengalaman saya, ketika saya memasang kepala udang sebagai umpan, tidak ada satu ikan pun yang mau menyentuhnya.

TKP (Terjun Ke Pantai)

Tidak semua pinggiran pantai cocok untuk mancing pasiran. Anda harus menentukan spot yang pas untuk melempar umpan. Cara yang paling mudah adalah dengan mencari informasi kepada penduduk sekitar, syukur-syukur kalau ketemu pemancing yang sudah biasa mangkal disana. Dari pemancing itu cobalah mencari info tentang daerah yang banyak ikannya, jenis ikan yang menjadi target, jenis ikan yang beracun, ukuran kail, umpan yang biasa dipakai dan kapan musimnya ikan tertentu (seperti GT) bertandang ke pantai tersebut.

Cara lain yang biasanya dipakai pemancing pasiran untuk menentukan spot memancing adalah mencari relung laut (daerah yang lebih dalam dari pada yang lain) melalui pengamatan. Seperti kata pepatah “Air beriak, tanda tak dalam” begitulah kucinya. Sebelum anda memancing, coba amati ombak yang menghempas pantai terlebih dulu dari tempat yang agak tinggi. Dari situ cobalah temukan daerah dengan ombak yang lebih rendah dari pada ombak di sekitarnya.  Ombak tersebut tidak banyak beriak dan tidak gampang berbuih. Setelah ketemu, cobalah untuk melempar umpan karena di sanalah relung laut, tempat ikan - ikan besar biasa “dinas” untuk mencari makanan.
 
Keadaan ombak juga sangat menentukan terhadap hasil ikan yang anda dapat. Ombak yang tinggi misalnya. Ombak yang mencapai ketinggian 2 meter dapat menghempas bandul anda sampai ketepian dengan mudah. Hal ini dapat anda siasati dengan memasang bandul yang besar. Keadaan ombak lain yang lebih mengganggu adalah jika ombak sedang “menganut aliran sesat” (itu sebutan saya kepada ombak yang menyimpang ke kiri atau menyamping ke kanan). Dalam keadaan itu meskipun ketinggian ombak cuma 1 meter umpan akan tetap mudah terhempas ke tepian. Ombak inilah yang sering dihindari para pemancing. Kapan kemunculannya pun tidak dapat diprediksi. Untuk itu jika anda mempunyai kenalan pemancing yang rumahnya tidak jauh dari pantai, tanyalah kepadanya sebelumnya.

sekian informasi mancing yang coba saya sharing. Berhubung saya seorang pemula maka kritik dan saran anda saya tunggu sebagai coment dibawah

foto silhuet pemancing : http://yogyakartafishingcommunity.blogspot.com/

Jumat, 01 November 2013

Catatan seorang pemimpi



            Semua orang punya mimpi. Jadi terkadang aku bertanya kepada orang di sekitarku tentang mimpi mereka. Mereka terkadang cuma diam. Ada yang menjawab dengan sungguh-sungguh. Ada juga yang menjawab setengah bergurau. Entah apa mimpi mereka yang sebenarnya. Aku hanya ingin bertanya .

Keinginanku untuk mengetahui mimpi orang-orang di sekitarku pertama kali ku utarakan kepada teman senasib sepenanggungan di SMK. Ketika itu kami "dolan" ke pantai. Bermaksud menghindar dari masalah di sekolah yang bersamaan menimpa kami. Di pantai itu kami saling bercerita tentang permasalahan di sekolah menurut sudut pandang masing-masing. Kami juga bercerita tentang permasalahan yang ada dalam keluarga kami. Lama aku bercerita tentang masalah yang ada dalam keluargaku, iseng-iseng aku bertanya padanya.


"Koe punya mimpi to?"
            "Mimpi, mimpi yang seperti apa?Aku punya mimpi kalau tadi malem. Nanti malem pas tidur aku juga punya mimpi lagi". Dia menjawab dengan nada yang ngawur.

"Ini bukan ngipi kembange tidur. Maksudku mimpi yang jadi angen-angenmu nanti di masa depan. Cita-citamu. Harapanmu-lah poko'e?."Aku bertanya dengan serius.

"Lek koe opo ?." Dia malah balik bertanya kepadaku.

"Ehmmmmmm..., aku pengen buka Warnet. Nggak cuma satu warnet saja. Aku pengen buka lima cabang. Yang empat ku buka dekat sekolahan biar rame. Nah, yang satunya lagi ku buka di rumahku sendiri dengan komputer yang servernya berspesifikasi tinggi. Jadi ketika aku berjaga di warnet, aku bisa main game kualitas tinggi sak penakku dewe. Aku menjawabnya dengan asal-asalan dengan ide yang tiba-tiba tersangkut di kepala.

"Ngipi ae leeeee..!!!. Tinggi banget mimpimu itu".

"Mosok segitu saja udah tinggi?. La mimpimu opo emange?" Aku terheran dengan apa yang ku dengar sekaligus penasaran dengan impiannya.

"Kita sekarang sekolah di SMK. Gak ada dua tahun lagi kita lulus. Teman-teman kita yang cewek bakal banyak yang dimantu. Kamu mungkin bisa kuliah. Kalau aku ya kerja. Cari duit." Sekarang raut mukanya yang serius jelas terlihat.

            Suara debur ombak yang menyapu pasir pantai kian jelas terdengar. Begitu pula desau angin yang semula hanya seperti berbisik sekarang menjadi riuh. Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-katanya sembari memandang langit tempat mimpi-mimpiku bersembunyi. Di antara bunyi pantai yang sedang pasang itu aku tak ingin mengucap apa-apa. Ku pikir mimpiku akan aman jika tak ku ungkapkan padanya. Jika ku ceritakan mimpiku yang sebenarnya, dia pasti akan menjawab dengan jawaban yang sama : "Ngipi ae leeeee..!!! ”. Dibandingkan mimpi yang berada di benaknya, mimpiku pasti lebih tinggi dan keadaanku sekarang tidaklah mungkin untuk meraihnya.

Ngipi ae leeeee..!!! . Kata-kata kawanku  di hari itu terus terdengar dikepalaku. Bahkan begitu membekas. Sampai membuatku bertanya-tanya pada diri sendiri. “Apakah aku cuma pemimpi?”

Beberapa minggu kemudian aku serasa tenggelam ke dalam keraguanku sendiri. Cuma sebaris kalimat dengan tiga kata. Tetapi entah kenapa seperti beribu-ribu baris yang terdengar dan entah kenapa cukup dengan tiga kata itu sudah membuatku tak berdaya. Semangatku meredup. Memang tidak pantaskah aku bermimpi ?.

Sampai pada suatu ketika ku rebahkan tubuhku pada ujung malam. Malam itu bukanlah malam yang muram seperti sebelumnya. Diterangi lampu tidur yang remang pikiranku berkelana kemana-kemana. Hingga sebuah pertanyaan hinggap di kepalaku.“Kenapa dia bisa berkata seperti itu?”

            Semuanya buyar. Tiga kata itu kehilangan kesaktiannya setelah pikiranku singgah kepada suatu bayangan masa lalu. Masa lalu yang membuatku mengerti kenapa dia hanya bisa pesimis di masa depan.

“Seperti inilah hidup kami le...., pagi-pagi kami harus ke ladang. Sore nanti jam empat kami pulang sambil membawa rumput untuk si kambing.” Ibu kawanku menatap dengan penuh sahaja.

“Ladangnya di mana to bu ?” Aku berusaha melembutkan tutur kata.

“Ya di sana itu.” Sambil menunjuk sebuah bukit yang tak jauh dari rumahnya.

            Aku teringat dengan keadaan keluarganya yang menurutku serba kekurangan. Rumahnya tampak monoton. Berwarna kelabu tanpa goresan cat pada dinding. Tak ada bunga yang tertanam di pelataran. Yang terlihat hanya kerikil yang disebar untuk menahan lumpur yang becek. Ibu dan ayahnya bekerja di ladang sebagai petani biasa. Kawanku sering membantunya meski dengan perasaan keberatan. Antara rumah dan ladangnya memang tak jauh tapi jalannya menanjak. Belum lagi jika musim hujan tiba. Jalan yang menanjak itu bertambah licin.

 “Kalau cah enom disini kerjanya apa aja?” tanyaku kepada kawanku.

“Di sini cah enomnya kerja jadi kuli bangunan kalau gak kepingin lungo ke luar negri. Ada juga yang kerja di Surabaya, tapi menurutku lebih baik kerja di sini. Di Surabaya semuanya serba mahal.”

Kembali ku tatap lampu remang yang menambah hangat malam renunganku. Lampu remang yang menemaniku menulis cerita ini. Sampai di sini aku menjadi mengerti kenapa kawanku dulu begitu tak peduli dengan mimpi. Dia mungkin saja punya mimpi menjadi gitaris band atau menjadi bintang iklan atau profesi lain yang dulu sempat ia kagumi. Mimpi itu mungkin saja pernah bersembunyi di langit tempat mimpiku bersembunyi. Namun semuanya itu cuma mimpi ketika dia memandang orang tuanya yang setiap hari hanya bekerja di ladang, para pemuda di sekitarnya  yang menjadi kuli bangunan setelah lulus SMA dan teman-temannya yang nekat bekerja ke luar negeri. Mimpinya yang setinggi langit itu perlahan jatuh ke tanah sempit tempat dia tinggal.

Sebenarnya aku ingin bertanya kepada kawanku tentang mimpi ketika kami bertemu kembali. Aku ingin tahu apakah dia sekarang sudah punya mimpi atau dia sudah meraih impiannya. Dan akhirnya pada tanggal 23 oktober yang lalu dia mengabariku untuk menemaninya Ijab Qobul. Di saat itu juga aku ingin bertanya tentang mimpi lagi. Sayangnya setelah tiba di rumahnya aku menjadi ragu. Aku merasa itu bukan waktu yang tepat untuk bertanya soal mimpi. Karena sego rames dan jajanan bolak balik bersliweran di depanku.


Trenggalek, Jumat, 01 Nopember 2013

Total Pageviews

Blogroll

© 2008 Blogroll. Adapted to Blogger by Zona Cerebral, design by Arcsin Web Templates.

Blogger news

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Berkawan dengan :